**) Istilah "Novel Sosok" dicetuskan pertama kali oleh Tasaro Gk
on Art-Culture
Iwan Setyawan (37) menuangkan pengalaman hidupnya ke dalam novel yang ia tulis, 9 Summers 10
Autumns, dari Kota Apel ke The Big Apple. Novel yang disebut Iwan sebagai
tulisan panjang pertamanya ini sudah dicetak delapan kali sejak pertama terbit
Februari 2011. Kisah itu pun kini difilmkan oleh sutradara Ifa
Isfansyah.
Dalam novel ini,
Iwan menceritakan perjalanannya, dari anak sopir angkutan kota di Batu, Jawa
Timur, mengenyam pendidikan di Institut Pertanian Bogor, hingga berkarier di
Nielsen Consumer Research, New York, Amerika Serikat (2000-2010). Iwan
menduduki jabatan direksi saat memutuskan mundur untuk kembali ke Indonesia.
”Saya ingin punya
buku keluarga karena tak punya foto keluarga semasa kecil. Saya ingin menulis
buku agar ponakan-ponakan saya tidak terputus dengan sejarah keluarga,” ujarnya.
Berbekal
keinginan itu, mulailah ia menulis. Ketika naskah siap terbit, ia sempat
gamang. Namun, sang ibu membuat keberanian Iwan muncul lagi. ”Siapa tahu akan
ada dua atau tiga anak sopir angkot seperti kamu yang akan baca dan
terinspirasi,” kata ibunya.
Juni lalu, sebuah
surat elektronik diterima Iwan. Isinya, cerita seorang pembaca muda yang akan
segera kuliah di San Francisco dengan beasiswa. Si pengirim surat ini juga anak
sopir angkot. ”Saya menangis membacanya,” kata Iwan.
*
Oki Setiana Dewi
(23) punya cerita lain. Namanya melejit sebagai pemeran utama film Ketika Cinta
Bertasbih (KCB) salah satu film laris Indonesia pada 2009. Tak kalah laris
pula sekuel film ini dan sinetron bertajuk sama yang ditayangkan TV pada
2010-2011.
Sebagai artis,
Oki yang sehari-hari berjilbab kerap ditanya wartawan, sejak kapan dan kenapa
ia berjilbab. Bukan pertanyaan yang mudah ia jawab. Akhirnya Oki menuangkan
kisahnya dalam buku memoar Melukis Pelangi (Mizania, 2011). Buku ini menjadi
best seller. Kini buku itu sedang dalam proses cetak ulang ke-10.
Di situ, Oki
menuturkan, sejak kecil ia bercita-cita jadi artis dan merantau sendiri ke
Jakarta pada usia 16 tahun untuk mengejar mimpi itu. Gaya dia berpakaian pun
saat itu jauh berbeda.
Sambil kuliah di
Sastra Perancis, Universitas Indonesia, ia jatuh bangun mengejar audisi peran.
Mimpi jadi artis itu ia hapus ketika ibunya divonis sakit serius. ”Saya cuma
ingin jadi anak sholihah supaya Allah mendengar doa saya untuk ibu,” katanya.
Tak dinyana,
justru saat itulah ia mendapat peran utama di film bertema religi itu. Dikenal
sebagai artis, membuka jalan baginya untuk lebih banyak mengajak orang
beraktivitas sosial. Bersama komunitas penggemarnya, Oki rutin berkegiatan
sosial, salah satunya mengadakan program edukasi mingguan di Lapas Wanita
Tangerang, sejak Oktober 2011.
”Saya menulis
buku untuk menginspirasi orang, mengajak orang bersandar kepada Tuhan dan
berbuat lebih dari sekadar untuk diri sendiri,” ujar Oki yang juga menjadi duta
untuk organisasi Rumah Autis ini.
Buku memoar juga
dipilih untuk mengawali kembalinya Ariel, Uki, Lukman, Reza, dan David —awak
band Peterpan yang kini jadi Noah—ke kancah musik Indonesia. Buku Kisah Lainnya
(2012) menceritakan perjalanan lima personel band ini, dari latar keluarga
hingga saat berjuang melewati badai masalah yang sempat menghentikan langkah
mereka bermusik, setelah Ariel terkena kasus.
*
Editor Fiksi
Gramedia Pustaka Utama (GPU) Hetih Rusli mengamati, novel yang diangkat dari
pengalaman pribadi penulisnya sedang menjadi tren dalam satu-dua tahun
terakhir. Memoar atau novel itu dinilai inspiratif walaupun berkisah tentang
orang yang belum dikenal luas.
Secara kuantitas,
GPU misalnya, masih lebih banyak menerbitkan biografi orang terkenal. Namun,
Hetih yakin, penulisan novel dari kisah nyata akan makin marak. ”Bahkan, orang
yang tidak bisa menulis pun berpikir mereka bisa mencari orang untuk membantu
menulis,” kata Hetih.
Berbeda dengan
orang-orang ternama, yang dibukukan dalam bentuk biografi, kisah hidup mereka
yang tak dikenal ini, menurut Hetih, lebih menjual ketika ditulis dalam bentuk
novel. ”Novel sifatnya lebih ringan, ada unsur drama dan emosi yang disukai
pembaca. Namun bukan berarti membohongi pembaca karena ceritanya tetap
terinspirasi kisah nyata,” ujarnya.
Pengamat buku
Arswendo Atmowiloto menilai positif maraknya penulisan buku dari penggalian
pengalaman pribadi itu. ”Esai personal yang bersifat human akan lebih mudah
menyentuh orang lain. Ketika pengalaman subyektif dibagi lewat buku, bisa
dirasakan orang lain, dan memberi pembacanya inspirasi itu jadi karya
obyektif,” ujarnya.
*
”Ahhh… Rasanya
seperti habis melahirkan!” Begitulah Sundari Mardjuki (37) mengungkapkan
perasaan lega dan bahagia melihat novel pertamanya, Papap, I Love You,
terpajang di rak toko buku.
Bagi Sundari,
merupakan perjuangan berat untuk menulis sendiri novel setebal 424 halaman,
menembus penerbit, hingga akhirnya karyanya terpajang di toko buku.
Sehari-hari, Sundari bekerja sebagai Manajer Pemasaran dan Komunikasi PT Sony
Music Entertainment Indonesia. Tekad Sundari menulis buku berawal tiga tahun
lalu ketika ia menyaksikan pergulatan sahabatnya, seorang pria yang jadi
orangtua tunggal.
”Saya bilang
padanya, saya harus menulis cerita tentang dia. Waktu itu belum tahu dalam
bentuk apa. Apalagi, saya juga tidak tahu teorinya,” ujarnya.
Ia pun kemudian
mulai mengumpulkan bahan, termasuk dengan mewawancarai para pria orangtua
tunggal lainnya. Ada kendala, karena sebagian besar pria-pria itu jadi orangtua
tunggal karena bercerai. Mereka juga tak biasa curhat urusan pribadi. Toh,
Sundari mengatasi kesulitan itu.
Pada 2010,
Sundari tinggal setahun di Amsterdam, Belanda, mengikuti tugas suaminya. Di
sana, di sela kesibukan mengurus dua anak, ia menulis cerita dari bahan yang
sudah terkumpul. Keterampilan menulis juga ia asah dengan mengikuti beberapa
lokakarya penulisan.
Setelah naskah
selesai, perjuangan berikutnya adalah menggaet penerbit buku. ”Mendapat
penerbit tak mudah. Saya senang ketika penerbit pertama langsung tertarik.
Tetapi mereka meminta mengubah beberapa isi tulisan. Saya menolak karena
tulisan ini seperti bayi saya. Kalau harus ada yang dihilangkan, esensinya juga
hilang,” tutur Sundari.
*
Iwan Setyawan
(37) juga berjuang keras untuk menulis buku pertamanya. Ia menuangkan kisah
hidupnya dalam novel 9 Summers 10 Autumns, dari Kota Apel ke The Big Apple
(2011). Di situ, tergambar perjalanan anak keluarga miskin di Batu, Jawa Timur,
ini jadi mahasiswa Institut Pertanian Bogor, hingga menduduki posisi strategis
di Nielsen Consumer Research, New York, Amerika Serikat.
Meski hobi
menulis puisi, Iwan baru menyadari bahwa membuat tulisan panjang berupa buku
butuh energi dan pengorbanan besar. ”Tetapi memberikan kepuasan luar biasa
juga,” katanya.
Kampung
halamannya di Batu, Jawa Timur, jadi tempat ideal bagi Iwan untuk menggali
kenangan. Ia banyak berbincang dengan ayah, ibu, dan keempat saudara
perempuannya untuk menyegarkan kembali ingatan. Bagi laki-laki yang gemar yoga
ini, menulis bak meditasi. Karenanya, ia menulis sendiri kisahnya.
Sementara Oki
Setiana Dewi (23) menggunakan buku harian sebagai sumber penulisan buku
pertamanya, Melukis Pelangi (2011). Kata Oki, itulah cara termudah untuk mulai
menulis buku.
Pemeran film dan
sinetron yang baru merampungkan studi di Sastra Perancis Universitas Indonesia
ini sudah menulis tiga buku dalam setahun terakhir. Dua bukunya yang lain
adalah Sejuta Pelangi (2011) dan Cahaya di Atas Cahaya (2012).
Di buku
pertamanya, Oki mendeskripsikan suasana batin dengan begitu menyentuh. ”Ada
pembaca yang bilang ia nangis baca buku saya, itu karena saya nulis-nya juga
sambil nangis,” ujarnya.
Saat ini, Oki
masih menyimpan cita-cita untuk menulis buku tentang pengasuhan anak. ”Itu buku
yang butuh ilmu dan pengalaman panjang,” ujar Oki, yang kini melanjutkan studi
Pascasarjana Pendidikan Anak Usia Dini di Universitas Negeri Jakarta.
Meski karya
penulis pemula, memoar Melukis Pelangi karya Oki serta novel 9 Summers 10
Autumns karya Iwan laris di toko buku. Sejak 2011, Melukis Pelangi telah
dicetak ulang sembilan kali, sedangkan 9 Summers dan 10 Autumns sudah delapan
kali dicetak ulang.
Penulis dan
pengamat buku Arswendo Atmowiloto menjelaskan, pengalaman pribadi menjadi titik
awal yang baik untuk dituangkan jadi buku. Namun, untuk kelanjutan berkarya,
pengalaman pribadi ini perlu diperkaya dengan opini, imajinasi, pengamatan, dan
pendalaman wawasan.
**) Istilah "Novel Sosok" dicetuskan pertama kali oleh Tasaro Gk
on pemikiran
Hal paling ampuh untuk dijadikan
dalih mungkin kalimat “Hidup adalah pilihan”. Itu pula yang muncul dalam
diskusi “Jiwa Kartini dalam Perjuangan TKW sebagai Emansipasi Perempuan” yang
diadakan Women Studies Center di kampus UIN Sunan Gunung Djati, Bandung, Rabu
(24/4). Niken, salah satu peserta diskusi mengatakan, “Menjadi perempuan adalah
pilihan. Mau menikah atau tidak, pilihan. Mau hamil atau tidak, juga pilihan.”
Pendek istilah, Niken menegaskan, perempuan mau memilih laku hidup semacam apa
pun, sah-sah saja. Lepas dari nilai-nilai baik dan tidaknya.
Apa yang dikatakan Niken
merupakan respons dari apa yang disampaikan oleh Khomisah, dosen Fakultas Adab
dan Humaniora UIN SGD, yang menjadi salah satu pembicara. Menurut Khomisah,
perempuan dan laki-laki memiliki porsinya masing-masing dalam kancah kehidupan.
Adapun yang membedakan adalah kodratnya.
“Kodrat perempuan itu memiliki
ovarium dan sel telur. Sedangkan laki-laki kodratnya memiliki sel sperma. Di
luar itu, dalam keseharian, lelaki dan perempuan berbagi peran dalam wilayah
dan kemampuannya masing-masing,” kata dosen muda itu.
Pembicara yang lain, Tasaro GK,
mengetengahkan pandangannya tentang konsep
feminisme yang berbeda dari apa yang sudah baku seperti yang dipegang
oleh Niken. Aktivis feminisme, selama ini memandang bahwa perempuan harus
dibebaskan. Dibebaskan dari patron Jawa yang sudah amat terkenal, yakni sumur, dapur, kasur. Perempuan, dalam
kancah kehidupan, harus setara dengan lelaki.
“Salah besar kalau lelaki dan
perempuan harus sama perannya. Lelaki dan perempuan itu sudah memiliki porsinya
masing-masing. Kalau harus sama, kenapa perempuan—feminis sekalipun—enggan
ngangkat-ngangkat kursi atau apa pun yang berat, dan justru minta lelaki yang
ngangkat? Kalau memang harus sama, ya angkat saja sendiri.” Kata Tasaro.
Tasaro menawarkan konsep baru
tentang feminisme. Menurutnya, kesetaraan yang diusung oleh aktivis feminis
harus dipugar dan digantikan dengan perspektif baru. Karena kesetaraan yang
dituntut oleh mereka seringkali bermakna “sama”. Prinsip kesetaraan yang
digembar-gemborkan aktivis feminisme, menurut Tasaro, adalah konsep yang sudah
jadul.
“Apa yang dikemukakan Niken,
sejak sepuluh tahun yang lalu saat saya jadi wartawan, itu yang terus
digembar-gemborkan. Nggak ada perubahan, padahal zaman terus berubah. Menurut
saya, lelaki dan perempuan dalam kancah kehidupan, bukan harus sama. Tetapi
adil. Adil kan nggak harus sama.”
Yang diusung aktivis feminisme di
Indonesia harus dipugar, harus diperbaharui. Karena kondisi zaman sudah banyak
berkembang. Menurut Tasaro, konsep yang jadul itu, sangat pas diusung di India.
Karena setiap hari, kasus pemerkosaan rawan terjadi.
Seringkali, kata Tasaro, aktivis
feminisme—atau bahkan aktivis HAM—terlalu memaksakan cara pandangnya. Karena
ada banyak hal yang tidak bisa disamaratakan. Misalnya para wanita di
Afganisthan yang mengenakan burqa alias
pakaian yang sangat tertutup. Bagi aktivis feminisme, hal tersebut mungkin
disebut penyiksaan terhadap perempuan karena mengungkung kebebasan. Namun
menurut peempuan Afganisthan, burqa justru
melindungi mereka.
“Di Tibet misalnya, perempuan di
sana adalah pengambil tugas berat yang biasanya dilakukan oleh para lelaki.
Mereka menimba air, mencari kayu bakar, dan berburu. Sementara kaum lelaki
berdiam di rumah. Cabut dan ubahlah budaya itu, maka perempuan Tibet tidak akan
merasa sempurna sebagai seorang perempuan,” tambahnya.
Jadi, apa yang paling tepat untuk
perempuan Indonesia?
“Saya rasa bukan tentang menuntut
kesamaan atau kesetaraan yang pada praktiknya tetap tidak mulus. Yang harus
diraih oleh perempuan adalah pendidikan. Di mana pun perempuan berkiprah,
dengan pendidikan, dia tidak akan kehilangan eksistensinya.”
Fatih Zam, Pikiran Rakyat (2/5)
on resensi
Judul Buku : Kinanthi Terlahir Kembali
Penulis
: Tasaro GK
Penerbit
: Bentang Pustaka, 2012
Tebal Buku : 534 halaman
Tasaro GK, penulis yang kondang
dengan novel trilogi Muhammad,
menerbitkan kembali novel yang menahbiskan dirinya sebagai novelis kelas atas
nasional (sebelumnya terbit pada 2009 dengan judul Galaksi Kinanthi). Kisah Kinanthi, gadis asal Gunung Kidul yang
ditukar orang tuanya dengan sekarung beras, selanjutnya terombang-ambing
nasibnya sampai terdampar di Saudi dan Kuwait, menggambarkan dengan begitu
terang tentang nasib mayoritas buruh migran perempuan Indonesia. Kinanthi adalah
potret akumulasi penderitaan yang dialami para buruh migran perempuan Indonesia
yang sering tayang di muka media: penyiksaan, pemerkosaan, sampai pada teror yang
bersifat psikis. Kronologi penyiksaan hingga teror psikis digambarkan dengan
detail dan penuh penghayatan oleh Tasaro. Bukan hanya itu, sebagai mantan
wartawan, Tasaro juga dengan gamblang menjelaskan penyebab siksaan itu, seperti
kendala bahasa, kemampuan menyesuaikan diri yang kurang, sampai cara ilegal menjadi
buruh migran.
Cerita ini mengambil latar Gunung
Kidul, Bandung, Arab Saudi, Kuwait, dan Amerika. Lewat latar Gunung Kidul,
Tasaro memotret kehidupan kelas bawah yang miskin dan terbelakang secara
pendidikan. Kehidupan Kinanthi cilik di Gunung Kidul yang miskin inilah yang
membuat dirinya ditukar oleh ayahnya dengan sekarung beras kepada sepasang
suami istri asal Bandung yang ternyata agen buruh migran ilegal. Di Bandung, Kinanthi
dirawat beberapa lama, kemudian disalurkan ke Arab Saudi sebagai pembantu rumah
tangga. Di Arab Saudi, lalu pindah ke Kuwait, Kinanthi mengalami penganiayaan,
sampai dia terdampar di Amerika. Di Amerika, setelah melalui proses panjang dan
berliku, Kinanthi diangkat sebagai anak negara yang memiliki hak sebagaimana
warga negara Amerika: mendapat pendidikan gratis, jaminan keamanan, dan
mendapatkan orang tua asuh yang seagama.
Lewat kelima latar cerita ini,
Tasaro seolah menggambarkan sebab-sebab kemiskinan dan keterbelakangan serta
penyelesaiannya. Gunung Kidul menjadi manifestasi bagaimana kemiskinan itu
demikian mencekik. Di latar inilah, Kinanthi sebagai tokoh utama ditukar orang
tuanya dengan sekarung beras. Dia dibawa ke Bandung, selanjutnya disalurkan
sebagai buruh migran ilegal ke Saudi. Penderitaan demi penderitaan didapatkannya
selama menjadi pembantu di sebuah keluarga di Saudi dan Kuwait. Dia lalu mendapatkan
kebebasannya, dan diangkat sebagai anak negara, di pengadilan Amerika.
Jika kita simak dengan saksama, kelima
latar dalam novel ini memberi gambaran yang cukup terang bahwa novel ini tidak
hanya bercerita tentang cinta atau penderitaan si lemah dan tak berdaya. Ini
juga novel ideologis, ini novel yang menawarkan perspektif baru tentang feminisme.
Suka atau tidak, cerita tentang buruh migran perempuan asal Indonesia yang
memenuhi pemberitaan di media massa, barangkali menjadi pupuk bagi tumbuh
suburnya gerakan pemikiran feminisme di Indonesia. Penganiayaan, pelecehan
seksual, dan sederet penderitaan lainnya seolah mendukung apa yang selama ini
dituntut oleh mereka: kesetaraan hak.
Latar yang merupakan manifestasi
penderitaan, yakni Gunung Kidul, Bandung, Saudi, dan Kuwait, berakhir dengan
manifestasi kebebasan dan kebahagiaan di Amerika. Amerika, kebun tempat tumbuh
dan berkembangnya pemikiran feminisme adalah latar di mana Kinanthi mendapatkan
haknya yang hakiki sebagai manusia. Feminisme itu sendirilah yang pada ujungnya
menjadi kompas berpikir Kinanthi.
Namun, feminisme yang dikenalkan Kinanthi
bukanlah paham yang sudah baku dan selama ini digembar-gemborkan aktivis feminisme
di seluruh dunia. Perspektif feminisme yang coba ditawarkan oleh Kinanthi bukan
tuntutan kesetaraan hak yang lalu bisa dilabeli HAM. Perspektif feminisme yang
baku, secara sederhana, bisa kita lihat dari patron Jawa, bahwa tugas perempuan
adalah dapur, sumur, kasur.
Lewat Kinanthi, Tasaro menyajikan
wajah lain dari feminisme. Menurutnya, kesejatian feminisme adalah ketika
perempuan kembali pada keasliannya, pada kodratnya. Tidak lantaran feminis,
maka perempuan tidak lagi berkutat dalam urusan domestik rumah tangga. Feminisme
yang ditawarkan Tasaro adalah, perempuan tidak perlu menuntut kesamaan hak
setara lelaki seperti mencari nafkah di luar rumah, dan semacamnya. Feminisma ala
Tasaro dengan Kinanthi-nya bukanlah ketika perempuan “menjadi lelaki”. Perempuan
tetaplah perempuan dengan perangkat-perangkat yang telah dititipkan Tuhan
kepadanya.
Lalu apa yang ditawarkan Tasaro
dan Kinanthi? Pendidikan. Pendidikan adalah tuas yang bisa membuat perempuan “setara”
dengan lelaki. Dalam novel ini, lepasnya Kinanthi dari penderitaan bukan
lantaran dia pindah ke Amerika dan memiliki pemikiran feminis. Tetapi di
Amerika, Kinanthi yang teraniaya bertransformasi menjadi Kinanthi Hope lewat
pendidikan. Lewat pendidikanlah, Kinanthi menjadi seorang professor mudah
tersohor sekaligus penulis kondang yang dijuluki Queen of New York.
Lewat pendidikan, Tasaro seolah
ingin menegaskan bahwa perempuan bisa tetap ada pada keaslian kodratnya. Tetapi
pemikirannya, ide-idenya, pendapatnya, bisa setara dengan lelaki, bahkan lebih.
Apa yang disampaikan Tasaro lewat Kinanthi-nya tentu mengingatkan kita pada
perjuangan RA Kartini atau Dewi Sartika. Bahwa perempuan bisa maju, jika alur
berpikirnya maju. Dan itu didapatkan lewat pendidikan. Pendidikanlah yang
menginspirasi cara pandang, tentang hidup, tentang kematian, dan tentang cinta.
Karena suatu saat, sebagaimana kutipan
dalam novel ini, mencintai adalah memutar hari tanpa seseorang yang engkau
sayangi. Sebab, dengan atau atau tanpa seseorang yang engkau kasihi, hidup
harus terus dijalani.
Fatih Zam
on Kukutipan
Istora Senayan, penghujung tahun 1977
Hujan
gelisah semenjak sore. Orang-orang sudah menyemut, tua-muda, laki-perempuan.
Ini pertunjukan bergengsi. Dua jenis musik, dua raja, dan dua kubu yang menjadi
“pemuja” akan unjuk kebolehan dalam satu arena. Orang-orang mulai membuat
berita, bahkan memberi label haram bagi siapa saja yang melewatkannya. Ini
benar-benar pertarungan antara kekuatan mapan dengan pendatang baru yang tengah
menjadi perbincangan—termasuk pergunjingan.
![]() |
| gambar dari sini |
Tepat
setelah kerumunan orang di dekat panggung besar menemui batas kesabaran, gong
dipukul dua kali. Suaranya menggema, menelan keriuhan orang-orang yang
berkerumun. Hanya sejenak keriuhan itu hilang. Karena begitu gema gong pergi bersama
angin, orang-orang kembali bergemuruh dengan suitan, tepuk tangan, gerutuan,
makian. Sembari itu, seluruh pandangan diseret ke atas panggung besar dan
megah. Rasa-rasanya, berkedip saat itu adalah satu kerugian yang tidak bisa
ditebus dengan apapun.
Lampu
lalu padam. Mereka bahkan tidak bisa melihat tangan mereka sendiri. Pekat itu
mampu menelan keriuhan. Semua orang menahan napasnya. Jantung berdegup menuju
kencang. Dan ketika lampu-lampu di atas panggung menyala, keriuhan yang sempat
bersembunyi kembali unjuk diri. Tepuk tangan dan suitan kembali memenuhi udara.
Dua
orang raja yang dielu-elukan masing-masing pendukung naik ke atas panggung,
diikuti para personelnya. Mereka naik dari sisi yang berlainan. Kepada para
pendukung yang memadati gedung pertunjukan, kedua raja menebar senyum,
melambaikan tangan, melemparkan ciuman jauh yang ditempelkan di jemari.
Penonton makin riuh. Tepuk tangan dan suitan bagai guruh.
Kedua
raja bertukar senyum. Saling berjabat tangan dan berangkulan penuh kehangatan.
Usai dengan ritual kecil itu, mereka menghadapkan badan ke arah penonton. Tanpa
ada komando, mereka berbarengan melepaskan merpati yang sejak naik panggung
tadi sudah mereka bawa. Merpati itu terbang menjemput kebebasan, meski akhirnya
hanya berputar-putar di langit-langit ruangan.
Orang-orang
mulai berbisik-bisik tentang arti pelepasan merpati. Ada yang bilang, dua
aliran musik yang dikabarkan bersaing ketat itu telah melakukan gencatan
senjata. Pelepasan burung merpati adalah simbol perdamaian, tanda bahwa selama
ini memang tidak terjadi apa-apa di antara mereka.
Sesuatu
di luar perhitungan lantas terjadi. Seorang lelaki tanggung bercelana cutbrai
dan berpakaian yang mirip dengan kedua raja lepas dari pengawasan pihak
keamanan yang mengamankan pertunjukan. Kemejanya dibikin ketat dengan rumbai-rumbai
yang menghias tepi kain lengan. Dua buah kancing di bagian dada sengaja tidak
dipasangkan. Dadanya terbuka dan seuntai kalung yang terbuat dari biji-biji
mutiara imitasi berwarna hitam kontras dengan kulitnya yang putih.
Para
petugas tidak lantas menurunkan lelaki itu. Sudah kadung kecolongan. Mereka
tidak ingin justru menciptakan kegaduhan yang berpotensi menambah masalah. Lelaki
itu menyalami dua raja secara bergantian. Para penonton makin riuh, iri tentu
saja. Apalagi setelah lelaki itu membalikan badan dan melambaikan tangan ke
arah penonton.
Lelaki
itu lalu menyodorkan koin, meminta kedua raja memilih salah satu sisinya. Ini
pengundian, siapa yang lebih dulu unjuk kebolehan. Kehangatan yang semula
tercipta, perlahan surut berganti dingin menuju beku.
Tatapan
dua raja pun ditafsirkan berbeda oleh orang-orang yang menonton kejadian itu.
Kehangatan telah berganti ketegangan. Lelaki yang mendadak menjadi juri
pengundi itu menarik garis bibirnya. Barangkali dia tidak rela kedua raja itu
berdamai.
Kedua
raja telah sudi memilih sisi mata uang yang ada. Koin dilemparkan, melayang
beberapa jenak sebelum akhirnya ditangkap dengan sigap. Lelaki itu belum
membuka tangan. Dia kembali mengumbar senyum ke arah dua raja dan penonton.
Makin makin menggila. Semakin tidak sabar saja.
Tangan
pemuda itu pun membuka. Entah bagian mana dari sisi koin yang ada di bagian
atas. Yang jelas, pemuda itu menunjuk raja berambut kribo dan bertampang Indo.
Kepada para penonton, dia mengacungkan tiga buah jari, simbol yang sering
diidentikan dengan aliran musik ini, rock.
Pendukung
musik rock riuh dan bertepuk tangan. Mereka merangsek mendekati panggung
pertunjukan. Sementara petugas keamanan makin meningkatkan kesiagaan.
Raja
yang satunya lagi, khas dengan jambang dan janggut, tersenyum menyilakan.
Sebelum ke belakang panggung, dia masih sempat melambaikan tangan kepada para
penonton, dan disambut dengan tepukan tangan yang gaduh.
Grup
musik rock sudah siap. Lampu dimatikan. Sekejap para penonton ikut senyap.
Lalu, seiring dengan lampu yang menyala, bunyi drum yang dipukul, bass yang
dibetot, dan gitar yang melengking mengirama memenuhi arena. Tepuk tangan
lantas menjadi bumbu tambahan, ketika sang vokalis mulai menyanyikan lagu Neraka Jahannam yang menjadi andalan.
Penonton bersorak, melompat-lompat, dan ikut bernyanyi meski dengan suara yang
ngasal.
Pertunjukan
semakin panas. Bukan karena lagu atau musik yang menjadi penyebab. Suasana
panas itu justru ditimbulkan oleh teriakan yang secara perlahan merambat dan
menguasai udara.
“Turun!
Turun!”
Mereka
menginginkan pertunjukan raja yang satunya lagi. Sudah tidak sabar. Sudah tidak
bisa ditunda lagi. Teriakan makin keras, menjalar, menular.
“Turun!
Turun! Turun!”
Untungnya,
grup band rock yang tampil apik ini memang akan mengakhiri aksinya. Mereka merundukkan
badan, memberi penghormatan sebelum undur diri ke belakang. Lampu kembali
dimatikan, suasana sudah demikian gerah. Masing-masing menahan napas. Tetapi jantung
malah berdegup kian kencang.
Lampu
pun menyala. Semua mata lagi-lagi terseret ke atas pentas. Namun, di sana tidak
ada sang raja. Tidak ada raja dangdut yang mereka elu-elukan. Yang ada hanya
sekumpulan manusia lucu yang bertingkah dengan dagelan andalannya. Mereka
memang sengaja ditempatkan panitia pertunjukan di tengah-tengah, di jeda antara
pertunjukan kedua raja.
Manusia-manusia
lucu mengeluarkan kata-kata dan sikap tubuh yang bisa mengundang tawa. Namun,
kehadiran mereka beserta lawakan lucu yang dibawa tidak berada di waktu yang
tepat. Orang-orang sudah tidak sabar ingin menyaksikan aksi raja yang satunya
lagi, yang oleh banyak orang dijuluki raja pribumi.
Ketidaksabaran
orang-orang menuju puncak hingga benda apa saja melayang ke atas panggung.
Manusia-manusia lucu yang sedang bekerja itu terganggu konsentrasinya. Mereka
buru-buru menyudahi atraksi. Lari terbirit-birit ke belakang panggung sebelum
aksi benar-benar dirampungkan.
Lampu
kembali dipadamkan. Beberapa jenak saja. Ketika lampu menyala, panggung sudah
terisi oleh sang raja, lengkap dengan personel pengiringnya. Penonton kembali
riuh. Suitan, tepuk tangan, segera menggantikan benda-benda yang tadi melayang
memenuhi pemandangan di sekitar pertunjukan.
Sang
raja masih mematung. Membiarkan keriuhan menemukan puncaknya. Setelah beberapa
lama, tangan kanan sang raja terangkat. Senyap langsung menggulung keriuhan
yang awalnya memenuhi udara.
Musik
pun mengalun. Banyak Jalan ke Roma dibawakan
sebagai lagu pembuka. Para penonton kini tak hanya bertepuk tangan dan bersuit.
Entah ada energi apa, mereka langsung ambil posisi, menggerakkan tangan, menggoyangkan
kepala, kaki mundur-maju satu-dua; berjoget. Suasana malam menyambut tahun baru
pun semakin meriah.
Pertunjukan
raja dangdut tak terasa sudah mendekati usai. Para penonton masih bertepuk
tangan sambil masih menyimpan rasa penasaran, apa kiranya yang selanjutnya akan
dipertontonkan. Raja dangdut tidak meninggalkan panggung pertunjukan. Tangan
kanannya menunjuk sisi panggung, lalu naiklah raja rock beserta personelnya.
Dengan hangat, raja rock merangkul raja dangdut. Selebihnya, sekumpulan gadis
cantik berpakaian serbaputih naik ke atas panggung. Mereka membawa kalung bunga
yang siap dikalungkan untuk dua raja. Tepuk tangan dan suitan tak henti-henti
menjadi pengiring pengalungan bunga itu.
Gadis-gadis
cantik itu meninggalkan panggung usai tugas rampung. Raja rock pun turun
panggung, melepas kalung bunga di leher, lalu mengalungkannya kepada salah
seorang penonton terdekat. Entah mimpi apa semalam dan kerasukan apa saat itu,
penonton yang mendapat kalung bunga dari idolanya itu menjerit histeris.
Sayang, dia tidak sempat merangkul raja rock, karena sudah keburu naik ke atas
panggung. Sementara itu, raja dangdut tidak melakukan hal serupa dengan apa
yang barusan terjadi. Kalung bunga yang ada di lehernya dia lepaskan, lalu dia
lemparkan ke tengah-tengah penonton. Penonton rusuh dan berebut kalung bunga
sang raja.
Tidak
lama, aksi saling rebut kalung bunga yang sudah entah jadi apa itu berhenti.
Tatapan kembali memusat ke atas panggung. Kedua raja saling berpegangan bahu,
musik mengalun. Mereka akan menyanyi bersama, tanda keseriusan dari simbol
merpati yang dilepaskan. Raja rock menyanyikan kembali lagu Neraka Jahannam. Raja dangdut
mengiringinya, ikut menyanyikan lagu yang sedang nge-hits itu. Demikian pula sebaliknya, ketika Neraka Jahannam usai dinyanyikan, gantian raja dangdut yang
membawakan lagu yang telah melambungkan namanya, Begadang. Irama dangdut bersemu rock itu langsung diikuti para
penonton dengan mengentakkan kaki, berjoget,
dan bertepuk tangan. Raja rock pun tanpa sungkan mengiringi, dia bahkan
tampak sudah hafal dengan lagu itu.
Sudah
pukul 23.00. Gong kembali bergema. Pertunjukan usai. Pihak keamanan dibikin
sibuk karena penonton hampir membuat kericuhan. Tampaknya mereka belum rela dan
belum puas dengan pertunjukan yang telah dilangsungkan. Mereka merangsek,
memburu dua raja yang buru-buru meninggalkan panggung.
“Hidup
Albar!”
“Hidup
Oma Irama!”
Bersahutan.
Bergantian.
(Melangkah ke Roma, Fatih Zam)




